Stipwunaraha Media & Publishing Group
Volume 10, Issue 2, October 2017, Pages 29-35 | Cite as
  • Open Access
  • Peer-reviewed Article

Analisis ekologi mangrove sebagai dasar rehabilitasi di Pesisir Arafura Samkai Distrik Merauke Kabupaten Merauke Provinsi Papua

1
Universitas Musamus, Merauke, Indonesia.
2
Universitas Musamus, Merauke, Indonesia.
Corresponding Author
https://doi.org/10.29239/j.agrikan.10.2.29-35
Open Access
  • 497 views
  • 77 download

Abstract

Pesisir Payum-Lampu satu merupakan salah satu pesisr yang secara geografis berhadapan langsung dengan Laut Arafura. Metode yang digunakan menggunakan metode transek 10 x 10m dengan mengambil sampel pada ekosistem mangrove yang rusak maupun mangrove yang baik. Hasil Penelitian didapatkan kerusakan mangrove di pantai payum disebabkan kareana adanya aktifitas masyarakat sebagai penggali pasir dan memanfaatkan kayu mangrove sebagai bahan bangunan. Hasil pengukuran luasan mangrove yang rusak dengan mengambil koordinat pesisir Kampung payum memiliki panjang mangrove yang rusak 1478,6 m atau 1,5 km dengan lebar mangrove antara 127–80 m sehingga didapatkan luasan mangrove yang rusak kurang lebih 2 ha. Adapun koordinat mangrove yang rusak mulai dari 8,517450 LS - 140, 407750 BT sampai 8,550040 LS - 140, 419770 BT. Pesisir Lampu satu memiliki luasan mangrove yang lebih kecil daripada Payum. Penentuan Panjang mangrove yang rusak didapatkan koordinat 8,500490 LS - 140,375410 BT Sampai 8,498320 LS - 140,367260 BT. Memiliki Panjang pesisir dengan mangrove yang rusak 374 m dengan titik koordinat pengukuran pada titik awal: 8, 501040 LS - 140, 369040 BT yang merupakan lebar mangrove yang rusak. Hasil Analisis kualitas air di pesisir payum COD: 22,12 - 25,13 ppm, DO: 4,63 - 8,13 ppm, 20,46 - 21,34 ppm, phosphate: 0,020 - 0,045 ppm, nitrat 0,005 - 0,009 ppm sedangkan pada pesisir lampu satu didapatkan COD: 20,72 - 28,17 ppm, DO: 3,58 - 8,79 ppm, BOD: 20,11 - 21,39 ppm Phosphate: 0,019 - 0,060 ppm dan nitrat 0,009 - 0,059 ppm. Analisis kualitas air dengan perbandingan baku mutu kualitas air Kepmen LH No.53 Tahun 2004 tentang baku mutu air laut untuk biota. Dan didapatkan sesuai untuk kelangsungan hidup biota. Sedangkan untuk biota yang berasisiasi didapatkan 14 jenis gastropoda dan I jenis bivalvia, di Payum didapatkan. Sedangkan di pesisir payum didapatkan 9 jenis gastropoda dan 3 jenis bivalvia. Sedangkan untuk jenis ikan yang tertangkap pada ekosistem mangrove yang rusak maupun yang baik didapatkan 10 jenis ikan. Pasang surut yang terdapat pada kedua stasiun sama dimana pasang tertinggi 4,1 m dan pasang terendah 3,7 dengan kedalaman pada ekosistem mangrove Payum lebih besar dari pada Lampu Satu.

Keywords

Mangrove, kerapatan, keanekaragaman, keseragaman, dominansi biota
These keywords were added by the authors and not by machine. This process is static and keywords cannot be updated except using algorithms or other reasons.

Full Text:

Download PDF (Bahasa Indonesia) (559KB) to read the full article text
Note: Downloadable document is available in Id

Supplementary files

Data sharing not applicable to this article as no datasets were generated or analysed during the current study, and/or contains supplementary material, which is available to authorized users.

Declarations

Competing interests

The authors declare that they have no competing interests.

Funding Information

UMMU

Publisher's Note

Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna remains neutral with regard to jurisdictional claims in published maps and institutional affiliations.

Open Access

This article is distributed under the terms of the Creative Commons International License URL (https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0), which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided you give appropriate credit to the original author(s) and the source, provide a link to the Creative Commons license, and indicate if changes were made.

References

Abdulhaji, R., 2001. Problem of issues affecting biodiversity in Indonesia. Situation analysis. Paper. Presented in Workshop on Tanning Net Assessment for Biodiversity Conservation in Indonesia 1-2 Februari 2001, Bogor, Indonesia.

Anonim, 2006. Buku 1 Potret Sumberdaya Kawasan Laut Arafura dan Laut Timor Menuju Pembangunan Berkelanjutan. Forum Pakar Laut Arafura dan Laut Timor.

Antonio de Jesus, 2012. Kondisi ekosistim mangrove di sub district Liquisa Timor- LesteMangrove ecosystems condition in Liquisa sub district Timor-Leste. Jurnal ISSN 2089-7790.

Arisandi, dkk. (2014). Eksternalitas Penambangan Pasir Pantai Secara Tradisional Terhadap Ekosistem Mangrove dan Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir di Kabupaten Merauke. Jurnal Universitas Terbuka Pasca Sarjana, Jakarta

Bengen, D. G. 2004. Pedoman teknis: Pengenalan dan pengelolaan ekosistem mangrove. PKSPL- IPB. Bogor. Dahuri dkk (2006). Pengelolahan Wilayah Pesisir Terpadu Penerbit Pradnya

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan LingkunganPerairan. Yogyakarta: Percetakan Kanisius.Paramita. Surabaya

Fachrul, M.F. 2008. Metode Sampling Bioekologi. Penerbit: Bumi Aksara. Jakarta

Fadli, dkk. (2013). Studi Zonasi Mangrove di Muara Sungai Kawal Kelurahan Kawal Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan. Jurnal Ilmu Kelautan dan perikanan Universitas Maritim Raja Ali Haji Jakarta

Hartini, S., G. B. Saputro, M. Yulianto, Suprajaka. 2010. Assessing the Used of Remotely Sensed Data for Mapping Mangroves Indonesia. Selected Topics in Power Systems and Remote Sensing. In 6th Wseas International Conference on Remote Sensing (Remote’10), Iwate Prefectural University, Japan. October 4-6, 2010; pp. 210-215

Harahap, 2010. Penilaian ekonomi Ekosistem hutan Mangrove dan Aplikasinya dalam Perencanaan Wilayah Pesisir. Graha Ilmu

Insafitri. 2010. Keseragaman, dan Dominansi Bivalvia di Area Buangan Lumpur Lapindo Muara Sungai Porong. Jurnal Kelautan. Universitas Trunojoyo. Jurnal kelautan. ISSN1907-9931

Irwanto, 2006. Keanekaragaman Fauna Pada Habitat Mangrove

Kusmana, C. 2005. Manajemen hutan mangrove Indonesia. Lab Ekologi Hutan. Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, IPB. Bogor.

Latupapua. M.J.J (2010). Keanekaragaman JenisNekton di Mangrove Kawasan Segoro Anak Taman Nasional Alas Purwa Jurnal Politekninik Perdamaian Halmahera- Tabelo. ISSN : 1907-7556

Masiyah, S dan Sunarni (2014). Komposisi Jenis dan kerapatan mangrove Pesisir Arafura Distrik Merauke Kabupate Merauke Provinsi Papua. Jurnal Agicola Fakultas Pertania Universitas Musamus

Noortiningsih, Ikna Suyatna Jalip, Sri Handayani. 2008. Keanekaragaman Makrozoobenthos, Meiofauna Dan Foraminifera Di Pantai Pasir Putih Barat Dan Muara Sungai Cikamal Pangandaran Jawa Barat. Vis Vitalis 1 (1). Fakultas Biologi. Universitas Nasional. Jakarta

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Alih Bahasa oleh PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta Indonesia

Onrizal. 2005. Adaptasi Tumbuhan Mangrove pada Lingkungan Salin dan Jenuh Air. Universitas Sumatra Utara. http://e-USU Repository.

Pratikto, W. (2002). Perencanaan perlindungan pantai alami untuk mengurangi resiko terhadap bahaya tsunami. Makalah disampaikan dalam lokakarya nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Jakarta, 6-7 Agustus 2002. Kementerian Perikanan Republik Indonesia.

Vatria, B. (2010). Berbagai kegiatan manusia yang dapat menyebabkan terjadinya degradasi ekosistem pantai serta dampak yang ditimbulkannya. Jurnal Belian V( 9), 47-54.

Widyastuti, M. dan S. L. Wahyu, 1998. Identifikasi dan Pengukuran Parameter Fisik di Lapangan. Kerjasama Fakultas Geografi-UGM dengan Bakosurtanal BANGDA dalam rangka Proyek MREP Sulawesi Selatan.

Wiratmini.N.I, dkk.(2006). Makrozoobenthos Partai Pererenan (Kabupaten Bandung): Jenis, Status dan manfaaatnya Bagi Masyarakat.Jurnal Biologi, FMIPA, Universitas Undayana Bali. Jurnal Bumi Lestari, Vol.8 No. 2, Agustus 2008. Hal 176-179 WWF

Kabupaten Merauke (2005) Luasan Mangrove Kabupaten Merauke. Dengan menggunakan data Citra.

Yulianda dkk, 2009. Pengelolahan Ekosistem Mangrove di Indonesia. Penerbit Graha Ilmu

Zaky, Abdul R. 2012. Kajian Kondisi Lahan Mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak dan Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Jurnal of Marine Research.1 (2) : 88-97. http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jmr.


Copyright

© Agrikan: Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan 2017. Hosting by Stipwunaraha Research Media.

Creative Commons LicenseThis article is distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License (https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0), which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided you give appropriate credit to the original author(s) and the source, provide a link to the Creative Commons license, and indicate if changes were made. The Creative Commons Public Domain Dedication waiver (http://creativecommons.org/publicdomain/zero/1.0/) applies to the data made available in this article, unless otherwise stated.

About this article

Verify currency and authenticity via CrossMark
Cite this article as: if using Mendeley click here
Masiyah, S., & Monika, N., 2017. Analisis ekologi mangrove sebagai dasar rehabilitasi di Pesisir Arafura Samkai Distrik Merauke Kabupaten Merauke Provinsi Papua. Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan 10(2): 29-35. https://doi.org/10.29239/j.agrikan.10.2.29-35
  • Revised

    Not available

  • Accepted

    Not available

  • Published

    8 October 2017

  • DOI

    https://doi.org/10.29239/j.agrikan.10.2.29-35

  • Publisher Name

    Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna

  • Print ISSN

    1979-6072

  • Online ISSN

    2621-0193

Subject

  • Mangrove, kerapatan, keanekaragaman, keseragaman, dominansi biota
  • These keywords were added by the authors and not by machine. This process is static and keywords cannot be updated except using algorithms or other reasons.

This article can be traced from

Refbacks

  • There are currently no refbacks.

Comments

By submitting a comment you agree to abide by our Terms and Community Guidelines. If you find something abusive or that does not comply with our terms or guidelines please flag it as inappropriate.