Analisis Pertumbuhan Diameter Jabon (Anthocephalus cadamba Roxb. Miq.) Hasil Penanaman KBR di Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara

Sabaria Niapele

Abstract


Kegiatan Kebun Bibit Rakyat (KBR)  merupakan sebuah gerakan moral yang bertujuan untuk memperbaiki laju kerusakan hutan dan untuk mengurangi lahan kritis yang ada di negara Indonesia pada umumnya dan Kabupaten Halmahera Barat pada khususnya. Penanaman pohon yang dilakukan di Kabupeten Halmahera Barat, tersebar kedalam sembilan kecamatan, sehingga tingkat pertumbuhan tanaman diduga terdapat perbedaan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain atau dari satu lokasi dengan lokasi yang lain. Tujuan penelitian untuk mengetahui  MAI dari tempat pengukuran yang berbeda, menguji MAI dari masing – masing tempat yang berbeda, menguji MAI pada tahun tanam yang berbeda, menganalisa pertumbuhan optimum tanaman Jabon dari tempat pengukuran yang berbeda. Pengambilan Sampel dilakukan dengan metode Individual dengan sistim random, karena lokasi KBR terletak tidak mengelompok dalam satu luasan hektar, akan tetapi tersebarnya lokasi penanaman  sesuai dengan lokasi atau lahan yang dimiliki oleh masarakat (kelompok tani). Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 9 perlakuan yang terdiri dari 9 desa yaitu : desa Porniti, Bobanehena, Hoku-hoku Kie, Tacim, Balisoan, Ngaon, Ake Jailolo, Akelamo Kao dan Bobaneigo. Masing-masing perlakuan diambil ulangan sebanyak 50 sampel tanaman jabon. Data yang diperoleh dari pengukuran di lapangan dianalisis dengan menggunakan analisis varians bentuk Rancangan Acak Lengkap, selanjutnya dilakukan uji LSD dan uji Kontras. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Riap tahunan rata-rata diameter setinggi dada diperoleh hasil sebagai berikut (dalam cm/tahun) : lokasi desa Hoku-Hoku Kie = 7,31cm, desa Ngaon = 6,57cm, desa Bobaneigo = 5,52cm, desa Balisoan = 5,99cm, desa Bobanehena = 4,72cm, desa Akelamo Kao = 5,08cm desa Ake Jailolo= 4,32cm, desa Porniti = 4,89cm, desa Tacim = 4,54cm. Hasil analisis varians dengan tingkat kepercayaan 5 % maka terdapat perbedaan MAI diameter pada Sembilan lokasi. Hasil uji kontras pada taraf uji 5 % menunjukan bahwa terdapat perbedaan antara MAI diameter pada tahun tanam, dan terdapat satu lokasi satu lokasi  MAI diameter yang terbaik yaitu  desa Hoku-Hoku Kie dengan umur tanam 2 tahun dimana, faktor eksternal pada lokasi tersebut sangat mendukung untuk perkembangan tanaman jabon seperti dekat sumber air, mendapat cahaya matahari yang cukup dan kondosi tanah yang gembur dan keadaan suhu yang stabil

Keywords


Pertumbuhan jabon, Diameter, KBR

Full Text:

PDF

References


Arif Arifin, 2001. Hutan dan Kehutanan. Kanisius Yogyakarta.

Awang, San Afri, 2001. Gurat Hutan Rakyat di Kapur Selatan. Debut Pres. Yogyakarta.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 2008. Profil Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Balit banghut, Departemen Kehutanan, Bogor.

Daniel, Theodore W, John A.Helms, Frederick S.Baker, 1992. Prinsip-Prinsip Silvikultur. Gadjah Mada University Press.

Dadan Mulyana, Ceng Asmarahman, Bertanam Jabon, PT. Agro Media Pustaka. Jakarta

Fandeli, Chafid, 1987. Ilmu Silvikultur Umum. Kerjasama Fakultas Kehutanan UGM dengan Proyek Pendidikan Latihan dan Pengendalian tenaga kerja Pengusahaan Hutan Departemen Kehutanan.

Hutanto, Tatang Herlambang, 2003. Studi Pertumbuhan Tanaman Jabon Pada umur 1 sampai 20 Tahun.

Irdika Mansur, Faisal Danu Tuheteru, 2010.Kayu Jabon. Penebar swadaya wisma hijau. Bogor.

Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati dan Fisik Vol.15, 2013. Model Pertumbuhan Diameter Tanaman Jabon

Krisnawati, H., Kallio, M. dan Kanninen, M. 2011 Anthocephalus cadamba Miq.: ekologi, silvikultur dan produktivitas.CIFOR, Bogor, Indonesia.

Master Sianipar,2011. Pengukuran Pohon Diktat pengawas tenaga teknis pengelolaan hutan produksi(was-ganis)pengawas hutan produksi. Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi Wilayah XVI Ambon

Radite, Joko Suharno, dan Sugeng Wahyudiono, 2000. Diktat Inventarisasi Hutan. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Stiper. Yogyakarta.

Supratman, Syamsu Alam, 2009. Manajamen Hutan. Laboratorium kebijakan dan kewirausahaan kehutanan Fakultas Kehutanan-Universitas Hasauddin.

Sambas, 1979. Phisiologi Pohon. Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Simon, Hasanu, 1993. Metode Inventore Hutan. Aditya Media. Yogyakarta.

Suharlan Alan, dan Jon Soedino, 1973. Ilmu Ukur Kayu. Bagian Pendidikan Sekretariat Direktorat Jendral Kehutanan. Jakarta.

Tri Pamungkas Yudohartono, 2013. Karakteristrik dari provenan sumbawa pada tingkat semai dan setelah penanaman, Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBTH) Yogyakarta




DOI: https://doi.org/10.29239/j.agrikan.12.2.258-265

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




© Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan 2019

Creative Commons LicenseThis work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

_________________________________________________
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan
ISSN 1979-6072  (print) | 2621-0193 (online)
Organized by Aquaculture Department - Wuna Raha Agricultural Sciences University, and Agricultural Faculty - Muhammadiyah Maluku Utara University
Published by Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna Raha
Website : https://ejournal.stipwunaraha.ac.id/index.php/agrikan
Email : agrikan@gmail.com, agrikan_ummu@yahoo.com

View Agrikan Stats